Apapun kecuali rindu.

Tahukah, ada hak juga kuasa yang lebih besar dari kamauan.
Jikalau aku bersuara akankah pengabaian tak tertarik lagi untuk membersamainya.
Padahal sudah tahu konsekuensinya.
Tapi apa daya dengan cara ini aku merasa tenang.

Kira-kira seperti itu story whatsapp ku yang terpampang jelas di akun milik pribadi ku. Aku berharap penuh ada seseorang yang berusah untuk memaknainya. Entah bagaimana aku bisa berharap demikian. Sepertinya aku terlalu jauh memainkan imajinasi. Terus terang aku malu untuk berkata tapi lelah untuk menahan. Apa iya aku akan tetap seperti ini,  meradam rasa, melawan ingin dan mengikat rindu yang berusaha memecah kekakuan. Dan sepertinya story whatsapp yang aku kirim tersebut juga tak memberi efek apapun. Tak ada respon sama sekali dari siapapun,  tepatnya aku hanya berharap itu akan direspon oleh dia. Dikatakan percuma juga tidak mungkin,  tapi setidaknya aku mampu mengungkapkan resah dihatiku. Kugali lagi dan lagi pengharapan,  mungkin saja dia membacanya,  mungkin saja dia merasakannya tapi dia menahan. Begitulah kira-kira fikirku yang berusaha menetap pada titik paling tenang dalam kebisingan. Sudah 24 jam dan tenggelam sudah semuanya.

Dihari yang berbeda aku tetap menatap layar hp ku,  sekadar melihat-lihat siapa saja yang mengirim pesan kepadaku dan kabar apa yang sedang marak terjadi akhir-akhir ini. Tapi bagiku semua itu tetap biasa -biasa saja,  alasan terbesarnya hanya satu hmm aku hanya ingin melihat story whatsapp mu. Rasanya itu adalah hal yang jauh lebih menarik inginku untuk memainka hpku. Setidaknya aku bisa melihat dan membaca isi fikiran dan juga bagaimana harimu. Tapi,  jelas saja kamu ini bukan manusia yang senang melakukan itu semua. Kamu lebih senang scrolling medsos tanpa tahu tujuannya apa,  entahlah aku hanya mengira-ngira. Kerap kali aku mendapatimu menlike foto, menonton insta story instagram ku dan sesekali melihat story whatsapp ku. Kau tak pernah alpa dalam melakukan itu setiap waktumu lowong tapi bagiku masih ada yang kurang dari sekadar melihat-lihat. Aku ingin respon atau setidaknya sapalah aku. Semelunjak ini aku bercakap dalam hati. Bukankah ini wajar aku rasakan  ?  Aku terbiasa dan aku ingin itu semua kembali.

Serumit ini ternyata, aku dihadapkan dengan satu raga yang memiliki dua jiwa yang berlawanan. Sesekali aku merasa tak dikenali olehmu dan suatu waktu aku malah merasa menjadi milikmu. Aku tak bisa memecah rupa dari pertanyaanku. Aku mencoba diam, kutatap baik-baik gambar fotomu,  kukembalikan dengan amat hati-hati tingkah ambigumu, kufahami dua kepribadian didalam raga itu. Kuamati baik-baik dan sering kudapati kau yang tak kalah membingungkannya dari teka teki kehidupan. Andai matamu bisa menembus isi fikiranku, tak bisa kubayangkan seberapa terbelalaknya matamu menyaksikan kericuhan yang terjadi didalam otak ini. Tidakkah kau ingin bertanya ada apa kepadaku ? Tidakkah kau ingin menyapa ku dengan sebutan kesayanganmu itu  ? Tidakkah kau ingat semua yang terjadi pada beberapa bulan terakhir ini. Ah aku berharap sedemikian banyaknya. Aku ingin kau ingat semuanya. Tentang bagaimana aku yang masih biasa-biasa saja dalam merespon segala hal yang kau lakukan untuk menciptakan kenyamanan.

Diawal keakraban itu tercipta mengingatkan ku pada satu momen tentang dirinya. Waktu itu tepat dihari ulang tahunku, aku mendatangi sosok pria yang berdiri kokoh di lobi gedung rektorat kampusku. Kulambaikan tangan dan kuucapkan salam untuknya. Maksud kedatanganku hanya sekadar meretas masalah tugas yang mesti aku kumpulkan. Awalnya biasa saja tapi setelah berbincang agak lama aku dikagetkan dengan uluran tangan dari sosok pria yang seharusnya tak melakukan hal itu. "Selamat ulang tahun" itu katanya, tak menunggu lama aku pun langsung menyambut uluran tangannya yang ingin menyalami diriku itu. "Terimakasih" hanya itu yang bisa aku balaskan dan juga sedikit lekuk senyum dibibir untuk menyelaraskan keadaan yang sedang aku hadapi. Setelah menuntaskan urusanku dengannya akupun kembali keruang kelasku yang memang tak jauh dari gedung rektorat. Entah sehebat apa diri sosok pria tadi hingga ia mampu mengelilingi isi otakku pada hari itu. Bukan karena terlena dengan parasnya, tidak sama sekali. Tidak juga kagum dengan kecerdasan yang dimilikinya,  itu berlebihan bagiku. Apalagi jatuh hati dengan senyuman atau bahkan terpukau dengan postur tubuh yang tinggi semampai, kulit bersih dan bagaimana detailnya ia dalam memerhatikan penampilannya. Bukan,  aku tak peduli dengan semua itu. Aku hanya dibuat heran dengan sikapnya,  bagaimana bisa sosok sepertinya bisa dengan entengnya mengucapkan kata selamat ulang tahun pada sosok mahasiswi semester 4 seperti aku ? Terlebih lagi aku baru kenal dengannya dan sebagaimana citranya sebagai dosen harusnya mereka bisa menjaga image dan tidak seramah itu kepada mahasiswi. Mungkin tanggapan ku terlalu berlebihan tapi aku merasa bahwa memang ini diluar batas kewajaran. Bukan hanya satu moment itu,  rupanya semuanya berlanjut lewat chat via whatsapp.

Setiap story whatsapp yang aku kirimkan seperti menjadi hal yang amat dia tunggu-tunggu. Tak pernah terlewatkan komentar yang ia lontarkan tiap kali melihat storyku. Baik itu merespon dengan kiriman emoticon atau bahkan memberi saran atau apapun hal yang memang berkaitan dengan tema storyku. Dimulailah segala cerita dari komentar-komentar itu. Benar saja aku dengannya sangat mudah membangun sebuah chemistry. Aku yang memang amat butuh arahan dan ia yang memang sering memberikan motivasi kepadaku. Satu hal yang tak bisa kusebut biasa adalah panggilan ini "Tembem" setiap aku memampang foto selfie ku dia selalu berkomentar demikian. "Kenapa kalau tembem?  Alhamdulillah kan sir, jadi terlihat sejahtera" begitulah jawaban ku setiap kali kau menyebut aku tembem. "Revi yang tembem" hmm kutatap baik-baik wajahku yang ternyata memang sangat tembem ini. Wajar saja dia sering mengomentari fotoku dengan sebutan ini. Bahkan sesekali  ia meledekku karena pipiku ini,  "hei aku lupa membawa gelas kekelasmu" katanya. "Gelas  ? Untuk apa memangnya sir. ?", "untuk menampung pipimu yang tumpah ruah itu"  ah dasar si dia bagaimana bisa ia bercanda seperti itu kepadaku tapi aku cukup terhibur dengan itu. Aku hanya tidak ingin larut disini. Kucoba membangun benteng untuk tetap merasa biasa apapun yang terjadi. Tidak boleh larut,  itu ucapku setiap kali aku merasa berbeda dari mahasiswi lain saat berinteraksi dengannya.

Aku melewati hari-hariku seperti biasanya. Aku yang memang dikenal cuek oleh banyak orang bahkan aku sudah terbiasa mendengarkan sindiran seperti kata dilupa dan juga melupakan. Itu wajar,  perangaiku memang tak seramah kebanyakan orang. Aku tak suka basa basi ataupun menebar senyum tiap kali berpapasan dengan orang-orang. Kupilah baik-baik siapa yang pantas menyambut senyumku dan siapa yang masuk dalam kategori pengabaianku. "Judes" itulah sebutan yang akrab ditelingaku,  "sinis" bahkan matakupun mereka berikan penamaan seperti ini. Tapi aku masih tetap sama, inilah aku yang memang tak mudah dalam membuka diri kepada orang banyak. Bukannya sombong hanya saja aku tak senang melakukan semua itu. Aku lebih memilih berjalan dan fokus pada tujuanku. Jikalau aku disapa aku akan menoleh dan menyambut sapaan itu dengan lekuk bibirku dan mataku yang terlihat menyipit. Aku heran dengan mereka yang super duper ramah kepadaku, aku bahkan tak pernah menyapa mereka duluan kecuali kalau mood ku sedang bagus. Saat mood ku hancur aku akan lebih memilih berpura-pura untuk tidak melihat mereka-mereka yang mengenali diriku ketika berada disatu tempat yang sama, bukan tanpa alasan jikalau mereka mendapati sorot mataku yang tajam ini aku khawatir mereka akan merasa dibenci olehku padahal tidak sama sekali. Seperti itulah aku dilingkup perkuliahanku. Aku senang dengan segala hal yang to the point and never to care about something yang sepeleh seperti halnya "tersenyum". Citraku yang dianggap super kaku ini cukup melemparkan statement dari mulut orang-orang bahwa aku bukanlah tipe manusia yang rawan akan jatuh hati
, bagi mereka aku adalah manusia yang hanya bisa fokus pada pelajaran dan tak cocok pabila dihadapkan dengan sesuatu yang remeh. Perkara hati aku memang sangat tertutup. Tapi mereka mana tahu isi hatiku. Tak ada yang bisa memahami seluarbiasa apa pergulatan yang menguasai ruang hatiku saat ini. Terlebih setelah dia masuk didalamnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Waktu membawa langkah ku kearahmu. Rasa mengundang jiwamu tenggelam kediriku. Kita satu tanpa nama dan sejatinya kita adalah ada tapi tiada.

20 april 2019

Hari ini lumayan cerah, ada angin sepoi-sepoi diatas kampus, ada gelak tawa dari kawan-kawan sekelasku dan ada kamu yang sering kali kudapati diam-diam memerhatikan gerak gerikku. Geer ? Iyah apapun itu aku merasa bahwa aku bukan manusia yang mudah sekali kegeeran. Tapi tetap saja,  walau aku diperhatikan sedemikian intensnya,  dikomentari sedemikian seringnya aku akan tetap menanggapinya biasa. Siapa dia?  Haha jangan mimpilah untuk bisa menarik perhatian dariku. Pada akhirnya egoku sampai kekenyangan dengan suapan-suapan penyangkalan yang aku berikan. Aku tak peduli itu,  intinya aku tak ingin larut, tidaakkk aku tak ingin terlalu jauh. Tapi aku bahagia diperhatikan olehnya, aku senang diajak berbincang dengannya dan aku terenyuh setiap kali aku bertukar pesan dengannya. Apa-apaan ini,  sudah cukup. Terlalu jauh aku terbawa arus, andai aku bisa membangun tembok tinggi menjulang agar aku tak merasakan ini semua. Tapi ini adanya, aku nyaman dan aku mengakuinya.

Morning...  Semenit kemudian dia langsung menanggapi story whatsapp ku itu dengan ujaran yg sama "morning tembem". Dasar kau ini apakah story-story ku sedemikian kau tunggu-tunggunya hingga tak ada satupun yang kau lewatkan untuk kau komentari. Terus terang aku tetap merasa biasa saja dengan segala pendekatan yang kau usahakan.

Aku sadar siapa aku dan siapa dia. Walau begitu aku tetap punya kewajiban untuk tetap bersikap ramah kepadanya. Terimakasi untuk segala bentuk perhatian mu itu. Aku masih betah dalam mengikat rasa. Kau tak lebih dari seorang manusia baru yang hadir untuk melengkapi cerita yang entah sampai kapan kau membersamai dan mengambil bagian didalamnya. Aku hanya berharap kedepannya akan tetap baik-baik saja. Cukuplah fikiran-fikiran gilaku ini yang berisik. Kau jangan ikut berisik disana lalu bertengkar dengan perasaan mu sendiri. Aku hanya sedang bercakap mesra dengan hatiku,  apakah aku suka karena nyaman atau malah karena segan. Ada apa denganmu  ? Mengapa aku dibuat seperti ini.

Bagaimana bisa aku terus dikuasai ingatan tentang dirimu seperti ini. Aku bisa apa selain membaca kembali percakapan kita via whatsapp setiap kali aku merindukan sosokmu. Tembem, adik tembem manis cantikku. Kau sangat senang memanggilku dengan sebutan tembem. Kamu adalah squisyku dan aku adalah squisymu itu katamu. Hati siapa yang bisa menyangkal itu semua ? Apa aku masih pantas untuk terus berkata bahwa ia tak ada rasa kepadaku ? Jika iya,  berati aku egois! Sudah jelas-jelas ini lebih dari sekadar hubungan pertemanan. Ku scroll percakapan kita lebih jauh,  ingatan tentang keakraban kita semakin merasuki fikiranku. Yap...  Tepat dibulan mei tanggal 2 untuk pertama kalinya bertemuan diluar lingkup kampus kita rayakan. Aku fikir tak akan secepat ini aku bisa akrab denganmu,  rupanya semua malah jauh dari ekspektasiku. Aku masih sangat ingat, kau yang menahan lapar karena sudah ada janji denganku dan aku yang juga menahan diri untuk makan karena sudah terlanjur janji untuk makan bersamamu.  Aku fikir kau sudah makan dan kaupun berfikir bahwa aku sudah lebih dulu makan, jadilah kita sama-sama merasa lapar. Tepat puku 19.00 aku beranjak dari tempatku,  kutemui engkau yang sebelumnya ingin menjemput diriku dan aku menolak karena lebih memilih untuk mengendarai motor sendiri. Rupanya itu menjadi first timenya kita bercakap panjang lebar. Aku hanya menepati janji makanya aku dinner bersamamu. Cukup menyenangkan namun kegilaanku tak bisa aku tinggalkan. Sukar bagiku melupakan moment ketika aku memesan mie goreng jakarta yang aku pesan dengan wajah memelas karena lapar.  Aku pun masih ingat apa yang kau pesan waktu itu, yap ayam goreng tepung special dari cafe "insyaAllah" setelah pesanan kita sampai, dengan sigap aku melahap mie gojaku dan jeng jeng jeng spontan kutarik kembali sendok yang telah aku masukkan dimulutku, awww panasss benar saja aku ditertawakan olehmu. "Makanya kalau makan mulai dari yang pinggir dulu jangan langsung bagian tengahnya kan panas" begitulah kau saat menasehati diriku sambil mengaduk-aduk mie ku dengan sendokmu agar dingin. Hehe siap Mr. Stone... Aku hanya bisa meringis menanggapi itu semua.

Aku ingat semuanya dan aku pun lelah dengan segala kedramatisan kita. Tentang aku yang bisa dibilang terlalu pasif dan kau yang memang sangat sulit ditebak. Apalah perbedaan antara kita dengan kaum tuna netra diluar sana. Mereka hanya bisa menerka-nerka wujud duniawi pada gelapnya penglihatan.  Lalu kita? Yah Aku dan kau yang amat betah menebak-nebak rasa dan fikiran masing-masing didalam kebisuan. Seperti ada pengerat dibibir, terjahit rapat oleh ego yang kian menebal setelah kita rajut bersama. Cukup lama dan aku menikmati,  entah bagaimana denganmu. Kini aku berpindah, tak lagi menscroll habis percakapan tua kita lewat whatsapp. Layaknya makanan yang sudah expayer itu sudah tak lagi layak untuk diingat kembali. Bisa over luar biasa otakku karenanya jika terus seperti ini. Pada akhirnya aku cukup berdamai dengan keadaan yang sebetulnya aku buat rumit sendiri. Jangan melawak lagi, dunia sudah lelah tertawa karena mu. Jalan terbaik adalah belajar ikhlas atas segalanya. Menikmati tiap rasa penasaran, kegelisahan bahkan kegilaan ini dengan mantap. Jika tak tegas seperti ini aku tak akan bisa terlelap lagi nantinya. Cukup sudah, diamlah,  jangan berisik lagi didalam sana, aku ingin tidur sebelum ku diserang lagi dengan cerita lama yang menjadi hantu berbentuk candu darimu. Aku ingat,  iya lagi-lagi tentang kamu. Ada aku dan kau ditepi pantai itu, bersama desir ombak yang amat tenang, disertai jingga langit sore yang kita kejar....  Huaaaammmm jingga iya pantai hff aku tak mampu lagi menahan beratnya kelopak mataku, aku ngantuk, kita lanjut lagi saja besok hm tentang jingga dan pantai itu di cancel aja dulu,  mataku sudah tak ingin diajak berkompromi.
  Good night~

Komentar

Posting Komentar