bukan apa-apa
Rintik hujan sudah tak lagi malu menampakkan diri. Rupanya bulan Desember sudah akan berlalu. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, hujan memang selalu akrab dengan bumi di penghujung tahun seperti ini.
Sudah cukup lama setelah kejadian pada beberapa bulan yang lalu. Segala pergolakan, keegoisan, kekalahan juga pengikhlasan cukup menjadi ruang pasrah untuk dua jiwa yang naif yaitu kita. Siapa sangka dua yang pernah menyatu kini justru berpisah tanpa jawaban juga alasan yang jelas, tapi mampu berlakon sekian lamanya tanpa kalah sekalipun. Hhuh.. Sungguh dua yang hebat!
Hingga saat ini aku masih kokoh dalam bungkaman rasaku sendiri. Sering aku bertanya-tanya disela kekosongan hariku. Bagaimana dirinya ? Sudah sejauh mana langkanya ? Seasing apa aku untuknya ? Juga seperti apa aku didalam benaknya. Entah seperti apa disana, sungguh aku kalah dalam hal menebak.
Sesekali aku masih membuka memori lama. Sekadar menatap ruang chat yang rupanya kian resmi. Sekat antara dua yang tidak setara. Jarak diantara dua yang tak sama. Berbeda diantara dua raga yang terus sembunyi dalam kebisuannya. Aku masih ingat dan tetap setia untuk menuliskan semua ini. Bukan untukmu tetapi untukku.
Sering sekali aku memaki untuk melepaskan semua rasa sesal yang aku punya. Tapi tahukah setelahnya aku berbalik mengigau. Hh aku ingat... Aku rindu.. aku ... Aku benci setengah mati.
Tiap kali kulakukan ini aku slalu berharap semuanya tersampaikan dengan sendirinya. Tak peduli dengan cara seperti apa.
😅 baper bacanya self wkwkwkwkw/
BalasHapus