Tulisan subuh untuk ibu
Malam ini begitu kelabu untukku. Bukan karena ingin lepas dari sangkar orang tuaku. Justru aku memiliki kebebasan tersendiri untuk mengekspresikan diriku sendiri. Suatu kebahagiaan tersendiri karena telah memiliki hal yang satu ini. Kadang dukungan dari orang terdekat memang bisa jadi kunci utama untuk meraih bahagia. Namun, dicelah kebahagiaan yang aku miliki, ada cerita yang masih belum sembuh untuk terdengar jauh bahagia.
Jujur aku tak memiliki maksud apapun untuk berkeluh kesah diruang hangat seperti ini. Inginku tak lepas dari sekadar meluapkan segala harap dan inginku yang belum tercapai. Jiwaku begitu melunglai setelah kupandangi mereka yang aku sayangi tertidur begitu lelapnya ditengah repotnya suasana malam mencekam ini. Keluhanku bukan lagi karena aku hampir begadang setiap malam seperti ini, melainkan aku tak kuasa melihat orang yang aku kasihi belum bisa merasakan bahagia selama mereka ada bersamaku.
Bagi ku cinta dan juga senyuman yang aku tebar belum cukup untuk menutup celah harap mereka yang mengidam-idamkan kebahagiaan. Duhai sayangku yang saat ini sedang tertidur pulas. Maafkan anakmu yang sekali lagi sulit untuk tertidur malam ini. Aku benar-benar dikuasai oleh rasa bersalah. Kewajibanku belum tercukupi untuk menyekat hausmu untuk bernafas lebih lega.
Duhai sayangku, bagaimana bisa aku membiarkanmu tertidur di ruang kecil ini tanpa menyekat tangis di ujung mataku. Biarkan aku membabat habis malamku dengan perasaan gunda yang mencekam. Sayangku, maafkan aku. Cintaku mungkin amat besar dan sangat mengangkasa, tapi apa hendak dikata tindakku masih saja seperti ini.
Ingin rasanya segera menemukan jalan yang baru. Ingin sekali rasanya memberikanmu ruang bahagia yang selama ini kau impikan. Sayangku, bolehkah aku meminta satu hal lagi kepadamu ? Aku ingin rasa percayamu yang lebih banyak lagi untukku. Aku butuh waktu dan juga beberapa langkah lagi untuk menjemput kebahagiaan untukmu. Sebut saja ia proses yang tiada arah lain selain menuju kearahmu. Lihatlah mata ku yang terkadang tak berani menatapmu. Kelopak mata yang menghitam dan suara yang kadang terdengar parau karena ingin menikmati malam dengan tertidur.
Malam ini aku benar-benar tak bisa tertidur walau sejam lamanya. Belum juga datang rasa kantukku, tepat di pukul 4 subuh kaupun terbangun. Ini adalah kebiasaanmu, aku tahu betul itu. Di subuh hari seperti ini kau akan bangun lalu bergegas untuk mandi lalu ke dapur. Apalagi yang kau lakukan kalau bukan untuk bergegas menjemput rezeki darinya. Hmm aku selalu ingat dan menggarisbawahi setiap wejangan yang kau ungkapkan. Katamu, Nak rezeki tidak akan datang dengan sendirinya kalau bukan kita yang menjemputnya, rezeki tidak bakalan mampir kalau kita hanya duduk diam ditempat, Mama sangat percaya dengan rezeki yang Allah berikan untuk mereka yang terbangun dan memulai usahanya di pagi yang dingin.
Seharusya aku yang bekerja sedemikian kerasnya, bukan lagi engkau. Seharusnya aku yang memulai hari ini dengan semangat yang lebih seperti dirimu. Harusnya aku yang memberikan segala apa yang engkau inginkan dan burikan. Harusnya akulah yang mulai melakukan itu semua saat ini. Kau cukup istirahat dan menikmati masa tuamu dengan bahagia.
Sayangku, sedikit lagi yah... Kuharap kau mampu bersabar menunggu keberhasilanku. Ada banyak mimpi yang aku miliki. Yang sepertinya hanpir melebihi ribuan mimpi yang kau harapkan dariku. Sayangku, simpanlah dulu air matamu. Jangan dibuang untuk sesuatu yang membuatmu sedih,sekalipun air matamu mesti terjatuh... sungguh hanya air mata bahagialah yang ingin aku lihat.
Sayangku
sabar yah...
Aku, adek dan kakak-kakak akan memberikan hadiah terbaik untukmu.
Sungguh, bahagiamu adalah tujuan kami.
Semoga Allah memberikan kebahagian untuk kita selalu.
Salam sayang dariku.
anak perempuan tertuamu . I love u
Jujur aku tak memiliki maksud apapun untuk berkeluh kesah diruang hangat seperti ini. Inginku tak lepas dari sekadar meluapkan segala harap dan inginku yang belum tercapai. Jiwaku begitu melunglai setelah kupandangi mereka yang aku sayangi tertidur begitu lelapnya ditengah repotnya suasana malam mencekam ini. Keluhanku bukan lagi karena aku hampir begadang setiap malam seperti ini, melainkan aku tak kuasa melihat orang yang aku kasihi belum bisa merasakan bahagia selama mereka ada bersamaku.
Bagi ku cinta dan juga senyuman yang aku tebar belum cukup untuk menutup celah harap mereka yang mengidam-idamkan kebahagiaan. Duhai sayangku yang saat ini sedang tertidur pulas. Maafkan anakmu yang sekali lagi sulit untuk tertidur malam ini. Aku benar-benar dikuasai oleh rasa bersalah. Kewajibanku belum tercukupi untuk menyekat hausmu untuk bernafas lebih lega.
Duhai sayangku, bagaimana bisa aku membiarkanmu tertidur di ruang kecil ini tanpa menyekat tangis di ujung mataku. Biarkan aku membabat habis malamku dengan perasaan gunda yang mencekam. Sayangku, maafkan aku. Cintaku mungkin amat besar dan sangat mengangkasa, tapi apa hendak dikata tindakku masih saja seperti ini.
Ingin rasanya segera menemukan jalan yang baru. Ingin sekali rasanya memberikanmu ruang bahagia yang selama ini kau impikan. Sayangku, bolehkah aku meminta satu hal lagi kepadamu ? Aku ingin rasa percayamu yang lebih banyak lagi untukku. Aku butuh waktu dan juga beberapa langkah lagi untuk menjemput kebahagiaan untukmu. Sebut saja ia proses yang tiada arah lain selain menuju kearahmu. Lihatlah mata ku yang terkadang tak berani menatapmu. Kelopak mata yang menghitam dan suara yang kadang terdengar parau karena ingin menikmati malam dengan tertidur.
Malam ini aku benar-benar tak bisa tertidur walau sejam lamanya. Belum juga datang rasa kantukku, tepat di pukul 4 subuh kaupun terbangun. Ini adalah kebiasaanmu, aku tahu betul itu. Di subuh hari seperti ini kau akan bangun lalu bergegas untuk mandi lalu ke dapur. Apalagi yang kau lakukan kalau bukan untuk bergegas menjemput rezeki darinya. Hmm aku selalu ingat dan menggarisbawahi setiap wejangan yang kau ungkapkan. Katamu, Nak rezeki tidak akan datang dengan sendirinya kalau bukan kita yang menjemputnya, rezeki tidak bakalan mampir kalau kita hanya duduk diam ditempat, Mama sangat percaya dengan rezeki yang Allah berikan untuk mereka yang terbangun dan memulai usahanya di pagi yang dingin.
Seharusya aku yang bekerja sedemikian kerasnya, bukan lagi engkau. Seharusnya aku yang memulai hari ini dengan semangat yang lebih seperti dirimu. Harusnya aku yang memberikan segala apa yang engkau inginkan dan burikan. Harusnya akulah yang mulai melakukan itu semua saat ini. Kau cukup istirahat dan menikmati masa tuamu dengan bahagia.
Sayangku, sedikit lagi yah... Kuharap kau mampu bersabar menunggu keberhasilanku. Ada banyak mimpi yang aku miliki. Yang sepertinya hanpir melebihi ribuan mimpi yang kau harapkan dariku. Sayangku, simpanlah dulu air matamu. Jangan dibuang untuk sesuatu yang membuatmu sedih,sekalipun air matamu mesti terjatuh... sungguh hanya air mata bahagialah yang ingin aku lihat.
Sayangku
sabar yah...
Aku, adek dan kakak-kakak akan memberikan hadiah terbaik untukmu.
Sungguh, bahagiamu adalah tujuan kami.
Semoga Allah memberikan kebahagian untuk kita selalu.
Salam sayang dariku.
anak perempuan tertuamu . I love u
Komentar
Posting Komentar